Friday, April 25, 2014
   
Text Size

Pencarian

Berita Pelaksanaan Diklat

Bekerja di Pajak bukan untuk Aktivitas Transaksional

Ditjen Pajak sebagai alat negara untuk mengumpulkan pajak ke Kas Negara akan tetap berinvolusi dalam segala judul terobosanya tanpa dukungan penuh segenap sendi bangsa ini. Pajak adalah unggulan utama yang diandalkan untuk mengisi pundi- pundi negara. Jangan biarkan Ditjen Pajak berjalan tertatih- tatih mengemban beban berat sendirian, padahal soal Pajak adalah urusan nasional. Jangan anggap Ditjen Pajak tidak bekerja optimal untuk tiap amanah tahunan yang disematkan didadanya. Amanah bukan hanya aktivitas transaksional berdasarkan poin-poin yang tercetak di atas kontrak,lebih dari itu, amanah adalah hal yang harus ditunaikan. Dituntaskan. Jika yang terjadi adalah proses transaksional, inisiatif akan jarang muncul saat terjadi hal yang tidak diinginkan, lha wong bidang dan tugas saya hanya yang ini, untuk di luar itu bukan urusan saya. Begitu kira-kira yang terpikir jika kita hanya memandang tugas dalam lingkup transaksional.

Jika pekerjaan dipandang sebagai amanah, maka seseorang akan menyadari bahwa dia mengambil peran dalam sebuah sistem. Sadar bahwa amanah utama yang diembannnya memiliki dampak pada pekerjaan dan urusan orang lain. Kesadaran ini akan membawa seseorang untuk memberikan lebih dalam menuntaskan pekerjaan, berinisiatif, dan tidak hanya terkotak-kotak pada poin kontrak. Seseorang akan bekerja sebaik-baiknya agar tidak merugikan pekerjaan rekan kerjanya, persis seperti analogi kopi yang saya sebut di atas. Tertunainya amanah dan tanggung jawab menimbulkan jiwa profesionalisme. Professional, a person who is expert at his or her work, engaged in one of the learned professions.Tanggung jawab dan konsistensi yang melahirkan keahlian. Ini tidak lepas dari proses belajar, learned professions, yang tentu saja tidak mungkin bisa ditunaikan jika hanya berdasarkan poin-poin di atas kontrak. Proses belajar bukan proses yang kaku berdasarkan poin-poin jobdesk, proses belajar butuh inisiatif.

Profesionalisme dalam bekerja juga akan membuahkan kejujuran. Baik itu jujur terhadap diri sendiri, maupun jujur terhadap orang lain. Jujur juga mencakup mengingatkan orang lain yang tidak bekerja dengan seharusnya. Jika kita sudah bisa saling mengingatkan, maka terbentuklah sebuah sistem yang jujur. Sistem yang menghasilkan kedisiplinan, di mana setiap elemen bukan hanya mengutamakan hasil namun juga menikmati prosesnya. Contoh menikmati proses adalah rela datang bekerja tepat waktu dan bekerja sesuai dengan waktu yang dikerjakan. Aturan waktu kerja tentu dibuat dengan maksud yang baik, terutama hubungannya dengan beban fisik saat bekerja. Hal ini disampaikan oleh Bapak Imam Arifin, Kepala Pusdiklat Pajak, pada hari Jumat, 14 Maret 2014 pada acara Penutupan Diklat Manajemen Pemeriksaan Angkatan I , DTSS Manajemen Penagihan Angkatan I, DTSS Pemeriksaan Bukti Permulaan Angkatan I dan DTSS Penyegaran Juru Sita I di Gedung N Pusdiklat Pajak.

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/images/2014/pembukaan/penutupanbukpere.jpg

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/images/2014/pembukaan/penutupanbukpera.jpg

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/images/2014/pembukaan/penutupanbukperb.jpg

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/images/2014/pembukaan/penutupanbukperc.jpg

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/images/2014/pembukaan/penutupanbukperd.jpg

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/images/2014/pembukaan/penutupanbukper.jpg

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak/images/2014/pembukaan/penutupanbukpere.jpg

 

   

Page 1 of 170

Kegiatan Terkini

No events

Link Situs