Thursday, April 17, 2014
   
Text Size

Pencarian

DAFTAR NOMINATIF, TIDAK DAPAT MENGHAPUS JEJAKMU

Oleh: M. Arief Risman

Kisah Pembuka

Mario adalah seorang pegawai di sebuah perusahaan besar yang sangat patuh dengan aturan perpajakan. Mario juga seorang pegawai yang teguh dengan prinsip agamanya. Sehubungan dengan adanya rotasi di kantornya ini dia mendapat tugas baru yaitu mengantar jemput setiap tamu penting perusahaan ke hotel atau tempat lain untuk menjamu tamu tersebut. Sekilas dia melihat peluang dari tugas barunya ini yaitu bisa mendapatkan kenalan orang-orang yang dianggap penting. Tugas itu pun dijalankannya dengan senang hati, sampai pada suatu hari dia mendapatkan kebimbangan. Salah satu tamu perusahaan menginginkan jenis hiburan yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Jika dia mengiyakan keinginan tamu itu maka tentu saja dia terlibat dengan dosa itu.

Setelah berfikir matang-matang, rupanya Mario teringat dengan pesan sobatnya Azzam di bagian pajak yang selalu wanti-wanti untuk tidak lupa membawa bukti-bukti pembayaran entertainment serta mengisi daftar yang disebutnya daftar nominatif. Daftar yang berisi data nama tamu, nama perusahaan, jenis entertainment, tempat, hari serta tanggal dan data lainnya yang harus diisi lengkap. Pesan sobatnya ini kemudian secara diplomatis disampaikan kepada sang tamu bahwa kegiatan bapak untuk mengunjungi tempat itu akan tercatat dengan lengkap di dalam daftar nominatif yang akan tersimpan rapi di perusahaan dan juga akan disampaikan ke kantor pelayanan pajak. Dengan kata lain, jejak Bapaj tidak dapat terhapus. Sang tamu yang terheran-heran dengan istilah daftar nominatif pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengunjungi tempat terlarang itu. Mario akhirnya bersyukur dan dia sangat merasakan manfaat dari daftar nominatif ini.

Kisah di atas hanya sebuah ilustrasi yang menggambarkan kepatuhan Wajib Pajak untuk selalu membuat daftar nominatif pada setiap biaya entertainment yang diberikan kepada para relasi atau mitra bisnis. Aturan pajak mengatur bahwa biaya entertainment merupakan biaya yang dapat dijadikan pengurang penghasilan bruto sepanjang diberikan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan dengan syarat tambahan Wajib Pajak harus membuat daftar nominatif, sebuah daftar yang memuat informasi detail tentang jenis, nilai dan pihak yang menerima entertainment tersebut. Apa itu daftar nominatif lalu bagaimana aturan pajak mengaturnya serta jenis-jenis biaya yang dipersyaratkan harus membuat daftar nominatif akan dibahas dalam artikrl di bawah ini.

A.      Pembahasan

  1. 1. Dasar aturan

Istilah daftar nominatif banyak ditemukan dalam peraturan perpajakan Indonesia. Penggunaan istilah ini banyak ditemukan dalam pasal-pasal peraturan yang berhubungan dengan pemeriksaan pajak, bentuk pelaporan yang disampaikan kantor pajak, serta persyaratan agar sebuah biaya dapat diperkenankan menjadi pengurang penghasilan bruto (deductible expense). Tulisan ini memfokuskan pembahasan daftar nominatif sebagai syarat agar sebuah biaya dapat diakui sebagai pengurang penghasilan bruto.

  1. 2. Jenis biaya yang mensyaratkan daftar nominatif

Pasal 6 Undang-Undang Pajak Penghasilan mengatur ketentuan bagaimana sebuah biaya diperkenankan menjadi pengurang penghasilan bruto. Sebuah biaya dapat menjadi pengurang epnghasilam bruto jika biaya tersebut dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, yaitu biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha. Namun untuk beberapa jenis biaya tertentu. Ketentuan perpajakan mensyaratkan adanya syarat tambahan. Syarat tambahan mutlak sifatnya karena jika tidak dilampirkan dalam SPT Tahunan PPh maka biaya tersebut tidak bisa diakui sebagai pengurang penghasilan bruto. Syarat tambahan yang dimaksud adalah daftar nominatif, sebuah daftar yang merinci tentang data-data yang dibutuhkan untuk memperjelas pengeluaran biaya tersebut. Daftar nominatif dibuat untuk membuktikan, bahwa biaya-biaya tersebut benar-benar telah dikeluarkan dan benar ada hubungannya dengan kegiatan perusahaan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan perusahaan.

Beberapa jenis biaya yang diwajibkan dilengkapi dengan daftar nominatif adalah sebagai berikut :

Biaya Entertainment

Biaya yang diperuntukan untuk menjamu relasi atau rekanan bisnis perusahaan. Pada dasarnya biaya ini diakui sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan sepanjang pengeluaran tersebut sesuai dengan kelaziman dan kewajaran dalam praktek dunia usaha sesuai dengan adat kebiasaan pedagang yang baik. Biaya entertainment menjadi pengurang penghasilan bruto jika dipergunakan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak serta dapat dibuktikan kebenarannya, sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-27/PJ.22/1986 tentang biaya entertainment dan sejenisnya (seri PPh Umum 18) yang menyebutkan bahwa :

  1. Biaya "entertainment", representasi, jamuan dan sejenisnya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan pada dasarnya dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan 1984.
  2. Wajib Pajak harus dapat membuktikan, bahwa biaya-biaya tersebut telah benar-benar dikeluarkan (formal) dan benar ada hubungannya dengan kegiatan perusahaan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan perusahaan (materiil).
  3. Oleh karena itu, Wajib Pajak yang mengurangkan biaya-biaya tersebut dari penghasilan brutonya, sejak tahun pajak 1986 agar melampirkan pada Surat Pemberitahuan Tahunan daftar nominatif

Biaya Promosi

Biaya promosi adalah bagian dari biaya penjualan yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak dalam rangka memperkenalkan dan/atau menganjurkan pemakaian suatu produk baik langsung maupun tidak langsung untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan penjualan.

Sesuai pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 02/PMK.03/2010 besarnya biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto merupakan akumulasi dari jumlah :

  1. biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau media lainnya;
  2. biaya pameran produk;
  3. biaya pengenalan produk baru;dan/atau
  4. biaya sponsorship yang berkaitan dengan promosi produk.

Selanjutnya dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa Wajib Pajak wajib membuat daftar nominatif atas pengeluaran biaya promosi sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 yang dikeluarkan kepada pihak lain. Daftar nominatif yang telah dibuat kemudian dilaporkan sebagai lampiran saat Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan. Apabila syarat ini tidak dipenuhi maka biaya promosi tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, ketentuan ini dapat dilihat dalam pasal 4 dan pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 02/PMK.03/2010.

Biaya piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih

Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih adalah piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar sesuai dengan bidang usaha perusahaan, yang nyata-nyata tidak dapat ditagih meskipun telah dilakukan upaya-upaya penagihan yang maksimal atau terakhir oleh Wajib Pajak. Berkaitan dengan piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dijelaskan dalam Pasal 3 ayat 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/PMK.03/2010 yang menyebutkan bahwa Piutang yang nyata-nyata, tidak dapat ditagih dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto, sepanjang memenuhi persyaratan :

a. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;

b. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih

kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan

c. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara, atau terdapat perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur atas piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih tersebut, atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus, atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.

Berdasarkan pasal 3 ayat 1 huruf b dinyatakan bahwa Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, sebagai daftar nominatif. Kemudian ditambahkan pula dalam pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil atau debitur kecil lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 harus dilampiri daftar nominatif.

  1. 3. Isi daftar nominatif

Daftar Nominatif Biaya Entertainment

Isi yang terkandung dalam daftar nominatif untuk biaya entertainment diatur dalam poin 3 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-27/PJ.22/1986 tentang biaya entertainment dan sejenisnya (seri PPh Umum 18) yaitu berisi :

  1. Nomor urut.
  2. Tanggal "entertainment" dan sejenisnya yang telah diberikan.
  3. Nama tempat, alamat, jenis, dan jumlah (Rp) "entertainment" dan sejenisnya yang telah diberikan.
  4. Relasi usaha yang diberikan "entertainment" dan sejenisnya sesuai dengan nomor urut tersebut di atas berisi Nama, Posisi, Nama perusahaan, dan Jenis usaha.

Daftar Nominatif Biaya Promosi

Isi daftar nominatif untuk biaya promosi tercantum dalam pasal 6 ayat 1 Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 02/PMK.03/2010 yang paling sedikit harus memuat data penerima berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak, alamat, tanggal, bentuk dan jenis biaya, besarnya biaya, nomor bukti pemotongan dan besarnya pajak penghasilan yang dipotong.

Daftar Nominatif Biaya Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih

Daftar nominatif untuk biaya piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih atau yang disebut daftar piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang diserahkan kepada Direktorat Jenderal Pajak adalah seperti yang tercantum dalam pasal 4 ayat (1) huruf b Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009, yaitu harus mencantumkan identitas debitur berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak, alamat dan jumlah piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih. Sedangkan dalam pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 disebutkan bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil atau debitur kecil lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 harus dilampiri daftar nominatif yang berisi identitas debitur berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak, alamat dan jumlah Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih.

B.      Penutup

Daftar nominatif adalah sebuah daftar yang merinci tentang data-data yang dibutuhkan untuk memperjelas pengeluaran biaya tertentu. Daftar nominatif dibuat untuk untuk membuktikan, bahwa biaya-biaya tersebut benar-benar telah dikeluarkan dan benar ada hubungannya dengan kegiatan perusahaan untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan perusahaan. Beberapa biaya yang telah dikeluarkan oleh Wajib Pajak wajib dibuat daftar nominatif, yaitu biaya entertainment, biaya promosi dan penjualan serta biaya piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih. Daftar nominatif yang telah dibuat oleh Wajib Pajak wajib dilaporkan sebagai lampiran saat Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan.

Dengan adanya ketentuan ini maka Wajib Pajak harus lebih tertib dalam mengelola pengeluaran yang berhubungan dengan biaya entertainment, biaya promosi dan penjualan serta biaya piutang yang nyata-nyata tidak tertagih untuk tetap bisa diakui sebagai biaya yang diperkenankan menjadi pengurang penghasilan bruto. Begitu pula para fungsional pemeriksa, para account representative atau petugas pajak lainnya harus lebih jeli melihat apakah biaya-biaya yang telah dikeluarkan Wajib Pajak tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk dilengkapi dengan daftar nominatif.

Daftar Pustaka

  1. Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang–Undang Nomor 36 tahun 2008
  2. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 57/PMK.03/2010 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 tentang piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
  3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 02/PMK.03/2010 tentang biaya promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
  4. Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-27/PJ.22/1986 tentang biaya entertainment dan sejenisnya (seri PPh Umum 18)
18 Votes

2 Comments

  1. Artikel yang bagus Pak Risman...

    Penggunaan daftar nominatif harus dilakukan apabila Perusahaan ingin biaya-biaya yang telah dikeluarkan tsb sebagai unsur pengurang pendapatan (versi pajak).

    Tapi ada kondisi-kondisi yang andaikan promosi produk rokok di suatu daerah, masa harus ada paling sedikit harus memuat data penerima berupa nama, NPWP, dll, padahal orang kecil aja ga kalo ditanyain NPWP, mereka pasti tidak punya/tidak tahu. Jadi bagaimana biaya promosi tersebut bisa menjadi pengurang????

    terima kasih "Fantastis, Bombastis n Luar Biasa"
  2. ah yang bener mas....

Add Comment