| Field Trip Peserta Workshop Persiapan Purnabhakti II |
|
|
|
| Selasa, 12 Mei 2009 11:02 |
|
Pada hari Senin tanggal 11 Mei 2009, peserta Workshop Persiapan Purnabhakti mengikuti Field Trip ke Bintaro Fish Center milik Ir. Cuncun Setiawan dan ke Parung Farm di Parung Bogor. Pukul 08.00 rombongan peserta berangkat ke tempat tujuan pertama yakni Bintaro Fish Center (BFC) di daerah Bintaro. Setibanya disana, pak Cuncun langsung mempersilahkan peserta untuk menuju tempat pemeliharaan lobster dan mulai menjelaskan mulai dari pembenihan hingga pendewasaan benih. Pak Cuncun memberikan penjelasan yang cukup detail tentang proses di setiap tahapan diharapkan peserta yang mengikuti kegiatan ini langsung mampu mengaplikasikannya. Di tengah penjelasannya yang serius beliau sempat menjadikan guyonan tentang sifat lobster, “dalam berbisnis jangan seperti lobster yang suka makan teman (kanibal).” Ada satu hal yang menarik yang dibagi disini yakni cerita kegagalan dari founder BFC itu sendiri. Ketika mengawali usaha, pak Cuncun memesan 2000 ekor lobster dari Australia untuk dikembangbiakkan dan dari jumlah itu sekitar 400 ekor atau seperempatnya mati karena stress. Namun berkat keuletannya, beliau berhasil mengembangbiakkan lobster dan kini telah menjadi contoh sukses dan diliput di beberapa televisi nasional dan dipercayakan memberikan pelatihan di beberapa Departemen. Sekitar pukul 11.30 perjalanan dilanjutkan ke Parung, Bogor untuk mengunjungi tempat pengembangan hidrofonik dan tanaman organik di Parung Farm. Sesampainya disana, pihak Parung Farm memberikan penjelasan singkat mengenai kegiatan bisnis Parung Farm. Parung Farm merupakan tempat penelitian dan pendidikan dan pelatihan yang dibangun pada tahun 1995 atas kerja sama BPPT dan Bapak Sudibyo Karsino. Tujuan awal pendirian Parung Farm adalah untuk memberikan pendidikan dan pelatihan serta melakukan penelitian. Namun mengingat besarnya animo peserta terutama dari luar Jawa untuk menjadikan ini sebagai lahan bisnis maka didirikanlah divisi baru yakni divisi produksi yang diantaranya berlokasi di Cipanas dan Sukabumi. Dalam kesempatan ini dijelaskan pula mengenai cara menanam sayuran dengan sistem hidrofonik. Caranya terbilang mudah, dimulai dari pembibitan dengan media tanam non tanah dan selanjutnya untuk pembesaran tanaman diberikan media tanam sendiri dan tinggal disiram dengan air yang mengandung pupuk. Lantas apa bedanya dengan cara konvensional??? Bedanya adalah media tanam dan kebutuhan akan area tanam. Secara konvensional, media tanamnya adalah tanah, sedangkan sistem hidrofonik media tanamnya non tanah dan jenisnya beragam, mulai dari arang sekam sampai pasir bisa digunakan asalkan disterilkan terlebih dahulu dengan air panas. Dan jika cara konvensional membutuhkan area tanam khusus, maka dengan sistem hidrofonik kita bisa menggunakan sela-sela rumah karena penanaman dilakukan di pot-pot kecil dan disusun dalam rak-rak. Selanjutnya pak Sudibyo menjelaskan mengenai teknologi yang digunakan untuk menyiram tanaman hidrofonik mulai dari Top Feed (menyiram dari atas) hingga Deep Flow Technique. Di sela-sela pemaparan, pak Dibyo menyelipkan sebuah pesan, ”jika Anda berbisnis bersiaplah gagal, dan kalau gagal segeralah bangkit.” Setelah peserta memberi kenang-kenangan, sekitar jam 15.30 akhirnya kamipun kembali pulang. Ada pelajaran penting yang diperoleh hari ini dari dua pebisnis sukses tersebut, ”ada resiko dalam setiap bisnis, persiapkanlah diri kita untuk menghadapi resiko itu jika ingin terjun ke dunia bisnis.” Selamat belajar berbisnis. (A.D. / Renbang) |