TEAM TEACHING, ANTARA KEBUTUHAN DAN KETERBATASAN PENGGUNAAN BAGI WIDYAISWARA PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Berita - Berita
Ditulis oleh Fatimah   
Kamis, 09 Agustus 2012 15:51

TEAM TEACHING, ANTARA KEBUTUHAN DAN KETERBATASAN PENGGUNAAN BAGI WIDYAISWARA
Oleh: Fatimah

Tujuan sebuah pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude) peserta diklat. Proses pembelajaran yang secara langsung melibatkan fasilitator/trainer/widyaiswara pada saat proses pembelajaran di kelas sangat mempengaruhi tercapainya tujuan tersebut. Fasilitator yang selalu kreatif dan inovatif serta menerapkan metode pembelajaran yang menarik diharapkan mampu menunjang hal itu. Saat ini banyak perusahaan swasta bergerak dalam bidang pengembangan sumber daya manusia yang dapat menyampaikan materinya dengan metode yang menarik. Kelebihan mereka adalah bisa mengemas sebuah diklat atau training yang biasa menjadi luar biasa.
Penulis sendiri merasakan sebuah proses pembelajaran yang menarik ketika mendapatkan kesempatan mengikuti diklat Short Term Training “Highly Efective Trainers” yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Pengembangan Sumber Daya Manusia pada bulan tanggal 24 s.d. 28 Juli 2012 kemarin. Penyampaian materi yang dilakukan dengan tim (team teaching) dimana setiap trainer memiliki keahlian dan spesialisasi masing-masing. Apa yang penulis dan sebagian besar peserta diklat rasakan? Di dalam kelas kami enjoy dan tidak merasa bosan walaupun materi yang disampaikan sebagian besar sudah pernah kami dapatkan. Setelah mendapatkan materi tersebut, penulis dan beberapa teman merasakan bahwa sebetulnya sumber daya manusia (SDM) kita pun mampu membuat diklat sama menariknya seperti mereka, tetapi ada beberapa batasan yang menjadikan keinginan untuk mewujudkan ke arah itu menjadi terhambat.


METODE PEMBELAJARAN TEAM TEACHING
Hal pertama yang menarik dan bisa penulis rasakan ketika mengikuti kegitan di atas adalah di dalam proses pembelajaran selama lima hari itu mereka melaksanakan apa yang sudah sering kita dengar, tetapi masih jarang kita laksanakan yaitu dengan cara team teaching. Dari pengertiannya, team teaching adalah sekelompok fasilitator yang bekerja bersama-sama untuk merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi aktivitas pembelajaran sekelompok orang atau murid dalam satu kelas . Pengertian lain adalah team teaching is a method of coordinated classroom teaching involving a team of teachers working together with a single group of students
Dari dua definisi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa sebuah metode pembelajaran team teaching akan melibatkan lebih dari satu fasilitator dalam proses pembelajaran suatu kelas. Mereka bekerja bersama mulai merencanakan, melaksanakan, sampai mengevaluasi bagaimana proses dan hasil belajar dalam kelas. Dari proses yang dikerjakan bersama ini, fasilitator bisa menilai apa saja kekurangan yang harus diperbaiki berdasarkan hasil pembelajaran yang sudah terlaksana. Evaluasi ini sekaligus sebagai bahan perbaikan sehingga proses pembelajaran selanjutnya menjadi lebih baik.
Selain itu team teaching menawarkan keunggulan intelektual dan proses pembelajaran orang dewasa (pedagogy). Metode ini dapat membantu menciptakan terciptanya lingkungan belajar yang dinamis dan interaktif, menyediakan tempat bagi fasilitator untuk menciptakan model pembelajaran yang menarik serta menginspirasi munculnya ide-ide baru untuk berbagai materi.

FASILITATOR BUTUH MELAKUKAN TEAM TEACHING
Ada beberapa alasan mengapa fasilitator butuh melakukan team teaching:
1. Meningkatkan intensitas pemberian materi
Melalui metode team teaching fasilitator akan mendapatkan banyak kesempatan untuk memberikan materi. Hal ini akan meningkatkan intensitas mengajarnya sehingga akan mendapatkan lebih banyak pengalaman dan pengayaan dari setiap proses mengajar. Dengan semakin meningkatnya pengalaman maka akan meningkat pula kompetensinya dalam melakukan kegiatan pengajaran.
2. Memperkaya konsep dan pemahaman fasilitator
Bagi fasilitator yang sering bekerja sendiri, team teaching akan menyediakan lingkungan untuk mengatasi rasa terisolasi karena bekerja sendiri. Dengan bekerja dalam tim, maka fasilitator akan mendapatkan metode baru, masukan, maupun kritikan yang bersifat membangun dari fasilitator lain. Ini akan memperkaya konsep serta ide dan memberikan pemahaman lebih baik bagi fasilitator untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
3. Sebagai alternatif bagi fasilitator yang merasa kelelahan
Ketika seorang fasilitator sudah kelelahan maka apa yang disampaikan akan menjadi tidak maksimal. Mereka menjadi kurang fokus dan kurang dinamis sehingga mengakibatkan penyampaian materi menjadi kurang menarik. Pendekatan yang dilakukan dalam team teaching adalah menggabungkan dua atau lebih kualifikasi yang dimiliki dan mengolahnya menjadi sebuah materi yang akan disampaikan kepada peserta. Karena perencanaan materi sudah dilakukan secara bersama, ketika salah seorang merasa kelelahan maka akan dengan mudah digantikan atau dilanjutkan oleh anggota lain. Dilanjutkan di sini tidak berarti fasilitator yang kelelahan tadi meninggalkan kelas. Dia akan tetap memantau proses belajar untuk saling melengkapi sehingga proses belajar diharapkan akan tetap menarik sepanjang hari.
4. Sebagai media saling belajar antar fasilitator
Setiap fasilitator mempunyai kelebihan yang bisa dijadikan tempat belajar fasilitator lain. Seorang fasilitator yang kurang menguasai materi akan mendapatkan materi lebih dari mereka yang lebih ahli. Sebaliknya fasilitator yang hanya menguasai materi tetapi kurang mampu dalam hal menghidupkan suasana kelas juga akan belajar dari yang lain. Dengan demikian proses belajar tidak hanya akan dilakukan oleh peserta, tetapi juga oleh fasilitator.

MANFAAT TEAM TEACHING BAGI PESERTA
Jika team teaching dilakukan dengan baik, peserta memperoleh manfaat antara lain:
1. Informasi yang lebih lengkap
Setiap fasilitator memiliki informasi dan pengalaman yang berbeda, maka melalui metode ini peserta akan lebih banyak mendapatkan informasi dan pengalaman itu karena para fasilitator akan membahas permasalahan dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
2. Pembimbingan yang lebih intensif
Salah satu hasil yang diharapkan dari sebuah pembelajaran adalah meningkatnya keterampilan. Melalui metode ini peserta akan dibimbing secara lebih intensif karena adanya pembagian fasilitator dalam satu kelas. Dengan bimbingan yang lebih intensif, maka masalah individu akan lebih terdeteksi
3. Kejenuhan bisa dikurangi
Jumlah fasilitator lebih dari satu akan memberikan warna yang berbeda pada sebuah proses pembelajaran. Masing-masing mempunyai daya tarik tersendiri dalam penyampaian materi. Satu yang lebih menguasai materi digabung dengan lainnya yang lebih jago dalam menghidupkan suasana kelas. Oleh karena itu, dengan penggabungan beberapa orang dalam satu kelas akan mengurangi kejenuhan.

KETERBATASAN PENGGUNAAN TEAM TEACHING OLEH WIDYAISWARA
Ada keterbatasan mengapa penggunaan team teaching belum dapat digunakan secara maksimal oleh fasilitator khususnya widyaiswara. Salah satu aturan inti yang dijadikan acuan seluruh widyaiswara di Indonesia adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Lembaga Administrasi Negara yaitu Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 3 tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya. Di dalam aturan tersebut terdapat definisi tentang team teaching.
Menurut peraturan ini, team teaching adalah kegiatan tatap muka pada satu mata diklat yang melibatkan 2 (dua) sampai 3 (tiga) orang widyaiswara yang ditentukan dalam kompetensi dasar, dan indikator keberhasilan untuk tiap mata diklatnya dengan mempertimbangkan aspek kompetensi yang ingin dicapai, materi diklat, jumlah peserta beserta metode pembelajarannya dengan waktu paling sedikit 10 JP yang memerlukan pendalaman dalam bentuk perkonsultasian.
Bab lain menyebutkan bagi kegiatan yang sifatnya team teaching maka harus melampirkan juga: Kurikulum Diklat (kompetensi dasar dan indikator keberhasilan untuk tiap mata diklatnya) dan/atau modul diklat yang menyebutkan ketentuan bahwa kegiatan tatap muka harus dilaksanakan secara team teaching dengan menjelaskan alasannya.
Selanjutnya juga disampaikan bahwa jika sebuah proses pembelajaran dilaksanakan secara team teaching maka untuk pembuatan bahan ajar, garis-garis besar pengajaran (GBPP) dan satuan acara pengajaran (SAP), bahan tayang, sera soal ujian angka kreditnya dibagi sejumlah Widyaiswara yang melaksanakan kegiatan tersebut.
Dari paparan di atas jelas bahwa minimal ada empat hal yang membuat widyaiswara terbatas menggunakan team teaching sebagai metode pembelajaran alternatif yaitu:
1. Hanya untuk materi dengan jam pelatihan lebih dari 10 jamlat atau 10 x 45 menit. Artinya untuk materi-materi yang kurang dari itu widyaiswara tidak bisa melakukan team teaching jika ingin tetap melaporkan menjadi angka kreditnya atau memilih melakukan team teaching dengan resiko tidak dapat diakui angka kreditnya.
2. Untuk materi yang memerlukan pendalaman dalam bentuk pengkonsultasian. Jika materi tersebut dirasa tidak memerlukan pendalaman yang bersifat konsultansi, maka tidak bisa melakukan team teaching
3. Harus menjelaskan alasan mengapa memerlukan team teaching. Tujuan penggunaan team teaching seperti yang sudah disinggung di atas adalah membuat suasana kelas menjadi lebih dinamis dan interaktif untuk materi apa pun. Artinya jika materi yang akan disampaikan itu adalah materi yang serius, misalnya menyangkut pasal-pasal di dalam undang-undang, dengan team teaching para pengajar bisa berkumpul bersama untuk merencanakan dan sharing untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih dinamis sehingga tidak membosankan. Keharusan menyampaikan alasan ini juga membuat keinginan menggunakan team teaching menjadi terhambat karena seharusnya fasilitator bisa menggunakan metode ini untuk materi apa pun.
4. Adanya pembagian angka kredit bagi setiap widyaiswara yang melakukan team teaching. Selama proses pembelajaran dengan team teaching, para fasilitator atau widyaiswara berada dalam kelas selama proses pembelajaran dan bergantian dalam memberikan materi. Jadi, bukan sekedar membagi jam latihan. Tanggung jawab atas tercapainya tujuan hasil diklat menjadi tanggung jawab bersama. Angka kredit yang harus dibagi ini mungkin juga menjadi alasan keengganan menggunakan team teaching.
Untuk alasan di atas penulis bisa menyampaikan beberapa alternatif untuk mengatasi hal tersebut, antara:
1. Penambahan materi soft skill yang masuk dalam kurikulum masing-masing mata diklat.
Penulis akan mencontohkan misalnya untuk Diklat Teknis Substantif Spesialisasi (DTSS) Pengadaan Barang Jasa, ada mata diklat Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konsultansi, di dalam indikator keberhasilan mata diklat bisa ditambahkan bahwa setelah mengikuti mata diklat ini peserta mampu memahami dan menjelaskan etika melaksanakan pengadaan jasa konsultansi. Penambahan materi etika ini penting karena di dalam proses pelaksanaan pengadaan jasa konsultansi perlu diingatkan lagi mengenai etika-etika tertentu yang harus peserta ketahui dan laksanakan. Selanjutnya materi ini akan bisa terasa dan diingat dengan baik ketika peserta juga mempraktikannya entah dengan sebuah game atau role playing. Dengan menambahkan materi ini maka total jamlat untuk mata diklat tersebut juga bertambah minimal sama dengan ketentuan di dalam PerKa LAN no 3 tahun 2010 di atas.
2. Penunjukan widyaiswara sebagai fasilitator adalah sebagai pengajar bukan sebagai anggota team teaching.
Ini perlu dilakukan karena dengan demikian angka kredit akan tetap bisa diakui secara penuh. Penulis merasa hal ini cukup fair karena para widyaiswara juga selalu berada sepanjang waktu dalam kelas.
Dengan sumber daya yang kita miliki, penulis yakin bahwa kita bisa membuat diklat-diklat dengan kemasan yang sama menarik dan sama menjualnya seperti yang dibuat oleh para trainer profesional. Mudah-mudah tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita yang ingin membuat perubahan ke arah yang lebih baik , semoga..


DAFTAR PUSTAKA

1. http://teaching.polyu.edu.hk/datafiles/R27.html
2. http://www.deptan.go.id/news/info/team_teaching.pdf
3. http://www.stanford.edu/dept/CTL/Newsletter/teamteaching.pdf
4. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 3 Tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya

Penulis adalah widyaiswara Balai Diklat Keuangan Malang

 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini15
mod_vvisit_counterKemarin212
mod_vvisit_counterMinggu ini15
mod_vvisit_counterBulan ini5921
mod_vvisit_counterSemua228656

IP: 50.19.144.243

Login