Pengumumanindeks

  • Pengumuman Hasil DTSS Operator Console Pajak Angkatan I Tahun Anggaran 2017 +

    Baca Selengkapnya
  • Pengumuman Hasil DTSS Tax Treaty Angkatan I Tahun Anggaran 2017 +

    Baca Selengkapnya
  • Pengumuman Hasil DTSS Manajemen Pelayanan Angkatan II Tahun Anggaran 2017 +

    Baca Selengkapnya
  • Pengumunan Lelang BMN BDK Balikpapan +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN PESERTA YANG TELAH MENGIKUTI LOKAKARYA RULES OF ORIGIN TA. 2017 DI MEDAN +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN PESERTA YANG TELAH MENGIKUTI LOKAKARYA PENYULUHAN LAYANAN INFORMASI ANGKATAN II TA. 2017 DI JAKARTA +

    Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3

Peraturanindeks

  • KMK Nomor 590/KMK.01/2016 ttg Pedoman Dialog Kinerja Individu di Lingkungan Kementerian Keuangan +

    Baca Selengkapnya
  • PER-2/PP/2016 Tentang Kerja Sama Program Pendidikan Dan Pelatihan Di Lingkungan Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan +

    Baca Selengkapnya
  • KMK Nomor 1329/KMK.01/2015 tentang Pedoman Survei Kepuasan Masyarakat Terhadap Penyelenggaraan Pelayanan Publik di lingkungan Kementerian Keuangan +

    Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3

Berita Terbaruindeks

  • Beda Generasi, Geda Cara Diklatnya

    Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) sebagai upaya dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam pengembangan pegawai diperlukan program pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan analisa jabatan agar pegawai mengetahui tujuan pendidikan dan pelatihan yang dijalankannya. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil Pasal 1 ayat (1) menjelaskan bahwa "Pendidikan dan pelatihan jabatan PNS adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil. Baca Selengkapnya
  • Pelatihan Dasar Gol. II Periode III Tahun Anggaran 2017 BDK Yogyakarta

    [Yogyakarta] Jum'at, 11 Agustus 2017. Mulai hari kamis, 10 agustus s.d 9 September 2017 BDK Yogyakakarta kembali menyelenggarakan Pelatihan dasar CPNS Gol. II Periode III yang merupakan periode terakhir untuk Tahun Anggaran 2017. Baca Selengkapnya
  • Pelatihan Dasar CPNS Golongan ll Angkatan lll

    Kamis, 10 Agustus 2017 bertempat di BDK Pontianak dibuka Latsar CPNS Golongan ll angkatan berikutnya. Baca Selengkapnya
  • Hari Ketiga Diklat ABK III dan Diklat Pengelolaan SDM Kementerian Keuangan

    (Tangerang Selatan) Rabu, 9 Agustus 2017 – Memasuki hari ketiga penyelenggaraan, Diklat Pengelolaan Sumber Daya Manusia untuk Pengelola SDM Kementerian Keuangan (Diklat Pengelolaan SDM Kemenkeu) dan Diklat Analisis Beban Kerja (ABK) bergulir dengan lancar di Pusdiklat Pengembangan SDM. Berbeda dengan Diklat ABK yang sudah mencapai angkatan ketiga, Diklat Pengelolaan SDM Kemenkeu untuk pertama kalinya diselenggarakan. Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3

 

CONSCIOUS COMPETENCE LEARNING MODEL

 

(Dari Tidak Menyadari Bahwa Dirinya Tidak Mampu Menuju Kemampuan Yang Tidak Disadari)

 

Oleh :

 

Widyarini, S.Psi.

 

 

Abstrak 

 

Conscious Competence Learning Model (CCLM) menjelaskan bagaimana proses belajar individu dan tahapan-tahapan yang dilaluinya dalam proses pembelajaran tersebut hingga seseorang menguasai suatu kompetensi atau ketrampilan tertentu.  Konsep Conscious Competence Learning Model (CCLM) pada awalnya dicetuskan oleh Abraham Maslow dengan teori Four Statge of Learning, kemudian dikembangkan oleh beberapa praktisi training secara terpisah, salah satunya adalah Noel Burch yang bekerja untuk US Gordon Training International Organisation sekitar tahun 1970-an. Tahapan pembelajaran dalam CCLM terdiri dari : Unconscious Incompetence, Conscious Incompetence, Conscious Competence dan Unconscious Competence.

 

Pada saat proses pembelajaran berlangsung tidak jarang seseorang menemui kesulitan dan hambatan. Kesulitan yang muncul seringkali berkaitan dengan “rasa sulit” yang muncul karena justifikasi yang mereka buat terhadap pengalaman diri sendiri selama mengikuti proses belajar tersebut. Justifikasi terhadap diri sendiri seperti : “Aku tidak mampu melakukannya dengan benar”, atau “Saya tidak cukup bagus melakukannya” atau bahkan “Saya tidak akan pernah bisa mempelajarinya….”, menjadi penghambat mental yang signifikan dalam proses pembelajaran. Perasaan semacam itu muncul karena orang tersebut tidak memahami kondisi kompetensi yang dia miliki saat ini, sehingga dia tidak tahu, kalau mau belajar  mau mulai dari mana. Tulisan ini membahas tentang tahapan belajar, yang awalnya diperkenalkan oleh Abraham Maslow sebagai Four Stage of Learning (Empat tahapan dalam belajar) pada tahun 1940-an.

Pemahaman tentang stage atau tahapan dalam belajar akan membantu seseorang untuk tetap fokus pada apa yang ingin dia capai dalam proses pembelajaran tersebut, tanpa kecemasan atau perasaan negatif tentang bagaimana caranya belajar. Bagi para pendidik, pengajar, fasilitator maupun para trainer, pemahaman terhadap CCLM ini juga sangat penting.  Seringkali para pendidik, pengajar, fasilitator maupun para trainer bertindak terburu-buru dalam memberikan materi pembelajaran atau pelatihan, tanpa berusaha terlebih dahulu memahami kondisi awal para pelajarnya / trainee-nya.  Mereka seringkali beranggapan bahwa para siswanya adalah orang-orang yang sudah mengetahui pengetahuan / ketrampilan apa (kompetensi macam apa) yang mereka butuhkan, dan seberapa banyak yang mereka butuhkan agar mereka bisa efektif.  Padahal bisa jadi diantara calon pelajar atau siswa tidak menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak mampu. Dia juga tidak tahu apa relevansinya pengetahuan dan ketrampilan itu dengan dirinya. Akibatnya mereka tidak termotivasi untuk mempelajari suatu pengetahuan dan ketrampilan baru, karena memang tidak tahu apa yang tidak diketahuinya.  

Konsep Four Stage of Learning ini selanjutnya dikembangkan secara terpisah oleh beberapa orang. Beberapa diantaranya menggunakan beberapa istilah yang berbeda, seperti Learning Matrix, Conscious Competence Matrix,atau The Conscious Competence Ladder    meskipun esensinya adalah sama. Salah satu praktisi pelatihan yang mengembangkan konsep ini  adalah Noel Burch yang bekerja untuk US Gordon Training International Organisation pada tahun 1970-an. Noel Burch menggunakan terminologi Consious Competence Learning Matrix (CCLM) sedangkan W Lewis Robinson, menggunakan istilah 'conscious competence' . Dan ternyata pada tahun 1969 Martin M Broadwell juga pernah menjelaskan konsep 'conscious competence' model, dalam artikelnya yang berjudul 'Teaching for Learning'. Dalam naskah ini, penulis menggunakan istilah Consious Competence Learning Model (CCLM).  

Conscious Competence Learning Model (CCLM) menjelaskan tentang bagaimana individu belajar dan tahapan-tahapan yang dilalui dalam proses pembelajaran tersebut hingga seseorang menguasai suatu kompetensi tertentu. Untuk mengetahui lebih lanjut silahkan unduh file yang menyertai artikel ini

 

 

 

Diklat Terkini

Artikelindeks

  • Pembawaan Uang Tunai (Rupiah atau Valuta Asing) Keluar/Masuk Wilayah Pabean Republik Indonesia

    Oleh: Hanik Rustiningsih Widyaiswara Madya Pusdiklat Bea dan Cukai Peredaran uang dapat menjadi indikasi suatu kejahatan, apalagi dalam jumlah yang sangat besar.  Di Indonesia pengawasan transaksi keuangan di lakukan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Dalam rangka pengawasan peredaran uang, PPATK memiliki kewenangan untuk akses data perbankan, namun peredaran maupun transaksi keuangan lintas negara secara tunai tidak bisa dilakukan oleh PPATK sendiri.  Undang-undang TPPU mengatur bahwa  pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lainnya senilai dengan Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih ke dalam atau ke luar daerah pabean Indonesia wajib diberitahukan kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) ditempat keberangakatan/kedatangan.   Selain kewajiban pemberitahuan kepada DJBC, pembawaan uang Rupiah juga dikenakan kewajiban izin dari Bank Indonesia (BI) atau memeriksakan keaslian uang tersebut. Kata kunci: uang tunai, impor uang, ekspor uang, pembawaan uang, izin BI Baca Selengkapnya
  • Menjadi AR yang Kompeten

    oleh : Mohammad Djufri (Widyaiswara Madya Pusdiklat Pajak) Abstrak Target penerimaan pajak yang diamanatkan kepada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) cukup besar. Semua sumber daya manusia yang dimiliki DJP diarahkan untuk mengamankan penerimaan, tidak terkecuali para Account Representative (AR) yang menjalankan fungsi pengawasan dan penggalian potensi. Para AR yang kompeten tentunya sangat dibutuhkan agar tanggung jawab yang diamanatkan dapat tercapai. Kompeten disini tidak saja mengasai pengetahuan dan keterampilan teknis perpajakan, tetapi juga sikap atau perilaku, pengalaman, keinginan (motif), watak dan pola pikir yang berorientasi kepada tujuan yang telah ditetapkan. Tulisan ini menggunakan metodologi deskriptif yang menjelaskan bagaimana strategi untuk menjadi AR yang kompeten tersebut. Hasil yang diperoleh adalah beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh para AR yang menjalankan fungsi pengawasan dan penggalian potensi agar menjadi AR yang kompeten sesuai yang diharapkan DJP. Baca Selengkapnya
  • E-Rekon-LK, aplikasi terobosan untuk rekonsiliasi SAI-SiAP dan konsolidasi Laporan Keuangan tingkat Kementerian dan Lembaga

    Oleh: Widhayat Rudhi Windarta (Widyaiswara Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan) dan Muhammad Syaifuddin Luthfi (KaSi Perencanaan dan Analisa Sistem Aplikasi Dirjen Perbendaharaan) Abstrak Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dalam rangka menghasilkan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Sistem tersebut diberi nama Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat. Terdiri dari Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara (SA-BUN) yang dilaksanakan oleh Menteri Keuangan, dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang dilaksanakan Kementerian Negara/Lembaga (KL). Perangkat lunak yang digunakan untuk menjalankan Sistem Akuntansi Instansi adalah aplikasi Sistem Akuntansi Instansi Berbasis Akrual (SAIBA). SAIBA dioperasikan secara berjenjang oleh UAKPA, UAPPA-W, UAPPA-E1 dan UAPA. Perekaman data dilakukan di satker, kemudian data di rekonsiliasi dengan KPPN. Setelah itu data dikirimkan berjenjang ke UAPPA-W s.d. UAPA. Pengiriman tersebut dapat menyebabkan data menjadi berbeda disamping memakan waktu dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi di tingkat wilayah s.d. K/L. Proses pengiriman juga menyebabkan monitoring tidak dapat dilakukan dengan cepat. Aplikasi e-Rekon-LK digunakan untuk mengkonsolidasi data seluruh satker, untuk rekonsiliasi antara satker dengan data KPPN. Data valid hasil rekonsiliasi digunakan untuk penyusunan laporan keuangan tingkat wilayah s.d. tingkat K/L. Penggunaan data dengan single database pada e-Rekon-LK menyebabkan tidak diperlukan lagi rekonsiliasi tingkat wilayah s.d. tingkat K/L. Laporan Keuangan tingkat wilayah s.d. K/L dapat diproduksi oleh e-Rekon-LK. Perbedaan data satker dengan unit akuntansi diatasnya dapat diatasi, dan penyusunan laporan keuangan menjadi lebih cepat. Monitoring satker juga dapat dilakukan dengan cepat pada aplikasi e-Rekon-LK. Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Eselon I Kementerian Keuangan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Inspektorat Jenderal
Sekretariat Jenderal
Direktorat Jenderal Bea Cukai
Direktorat Jenderal Pajak
Badan Kebijakan Fiskal
Direktorat Jenderal Anggaran
Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
Call Center BPPK
Easylib
Wise
Indonesia Darurat Narkoba
APBN Kemenkeu 2016