• 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 1

Pengumumanindeks

  • Call for Paper Jurnal BPPK Volume 8 Nomor 1 +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN HASIL DTU KESAMAPTAAN ANGKATAN II TA. 2014 DI PEKANBARU +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN HASIL DTU KESAMAPTAAN ANGKATAN II TA. 2014 DI MAKASSAR +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN HASIL DTSD KEPABEANAN DAN CUKAI EKSEKUTIF TAHUN ANGGARAN 2014 DI JAKARTA +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN HASIL DTSD KEPABEANAN DAN CUKAI ANGKATAN IV TAHUN ANGGARAN 2014 DI JAKARTA +

    Baca Selengkapnya
  • PENGUMUMAN HASIL DF PFPD ANGKATAN II T.A. 2014 DI JAKARTA +

    Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3

Peraturanindeks

  • 1
  • 2
  • 3

Berita Terbaruindeks

  • FGD EVALUASI PASCADIKLAT DAN DISTRIBUSI PROGRAM DIKLAT

    Hari ini, Rabu, tanggal 17 Desember 2014, bertempat di Ruang Rapat Balai Diklat Keuangan Cimahi, Pusdiklat Pajak dan Balai Diklat Keuangan Cimahi mengadakan Forum Grup Discussion (FGD) Evaluasi Pascadiklat Dan Distribusi Program Diklat untuk diklat-diklat yang berasal dari Pusdiklat Pajak yang diselenggarakan di Balai Diklat Keuangan Cimahi untuk Tahun Anggaran 2015. Baca Selengkapnya
  • Pekan Mahasiswa 2014 Prodip I STAN di BDK Cimahi

    PEKAN MAHASISWA 2014 UTS Selesai! Penat Mahasiswa/i BDK Cimahi karena UTS terobati dengan kegiatan yang ditunggu tunggu, yaitu PEKMA (Pekan Mahasiswa) yang sudah menjadi jadwal rutin di STAN setelah ujian. PEKMA kali ini diadakan mulai hari Senin tanggal 8 Desember 2014 sampai dengan hari Selasa tanggal 9 Desember 2014. Baca Selengkapnya
  • Capacity Building Prodip I STAN BDK Makassar: Fantastic!

    [Makassar] Senin, 15 Desember 2014. Dalam rangka STAN Holiday Camp, sebanyak 118 mahasiswa Prodip I STAN BDK Makassar yang terdiri dari 60 mahasiswa Spesialisasi Pajak dan 58 mahasiswa Spesialisasi Bea dan Cukai mengikuti kegiatan Capacity Building yang diselenggarakan selama tiga hari sejak Kamis (11/12) hingga Sabtu (13/12) kemarin. Baca Selengkapnya
  • Holiday Camp Mahasiswa Program Diploma I Keuangan STAN Tahun Ajaran 2014/2015 di Malang

    [Malang] Senin, 15 Desember 2014. Dalam rangka menegakkan kedisiplinan dan meningkatkan ketahanan fisik mahasiswa Program Diploma I Keuangan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Spesialisasi Pajak serta Kepabeanan dan Cukai, Balai Diklat Keuangan (BDK) Malang menyelenggarakan capacity building dalam bentuk Holiday Camp bagi seluruh mahasiswa Program Diploma I Keuangan STAN  yang menempuh pendidikan tahun ajaran 2014/2015 di BDK Malang. Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3

Diklat Terkini

Artikelindeks

  • Telaah Keberhasilan Gerakan Pembangunan Pedesaan di Korea Selatan (Menyongsong Pemberlakuan Undang-Undang Desa)

    Oleh : Muhammad Agus Muljanto *) Abstrak Pembangunan pedesaan memegang peranan penting untuk kemajuan Bangsa terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia. Pembangunan desa selama ini telah cukup banyak wujud hasilnya namun dirasa belum cukup dalam menggerakkan masyarakat desa untuk membangun dan memajukan desa. Belajar dari keberhasilan negara di Asia Timur yaitu Korea Selatan dengan Gerakan Saemaul Undongnya, ada pelajaran yang dapat dicontoh dan diterapkan dalam pembangunan desa di Indonesia. Saemaul Undong adalah gerakan pembangunan desa menuju kehidupan masyarakat yang lebih baik. Tujuan gerakan ini lebih dimaksudkan untuk mengubah pola pikir dan pilihan tindakan masyarakat desa dalam memperbaiki nasibnya. Masyarakat diajak untuk membangun kemampuan diri sendiri sehingga menumbuhkan kepercayaan masyarakat akan potensi yang dimiliki, membangun mentalitas untuk bekerja dan memiliki etos kerja keras sebagai budaya baru bagi kehidupan yang lebih baik serta mampu bekerjasama secara baik dengan lingkungan internal dan eksternal untuk mewujudkan masyarakat desa yang maju, mandiri dan sejahtera sebagaimana yang dimaksudkan dalam tujuan didirikan Negara Republik Indonesia . Keyword : Saemaul Undong, Pembangunan Desa I.Pendahuluan II.Perekonomian Korea Selatan III.Gerakan Pembangunan Desa Korea Selatan (Saemaul Undong) a.Definisi b.Tujuan Saemaul Undong c.Simbol dan Spirit Saemaul Undong Hal terpenting tujuan didirikan Negara Republik Indonesia diantaranya adalah mewujudkan kesejahteraan umum. Untuk itu semua komponen bangsa ikut dilibatkan dan turut serta dalam pembangunan mewujudkan kesejahteraan bersama tersebut. Selama ini pemerintahan desa sebagai penyelenggara urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat desa dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia lebih sering sebagai objek pembangunan dimana mindset pemerintah masih berpola sentralisasi pemerintahan. Di era berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, desa juga tidak banyak mengalami perkembangan dan kemajuan berarti yang relatif tidak sebanding dengan kemajuan daerah perkotaan di Indonesia. Kenyataan ini menjadi bahan renungan bersama bagaimana agar desa tidak kehilangan perannya dalam rangka berpartisipasi membangun bangsa. Seiring dengan dinamika politik dan ekonomi Bangsa saat ini, tuntutan untuk mengatur sendiri urusan dan kebutuhan desa dalam hal ini telah diakomodir oleh Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat RI dalam Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang dikeluarkan pada tanggal 15 Januari 2014. Tentunya semangat dalam rangka memajukan dan memandirikan desa ini perlu diapresiasi dengan sebaik-baiknya oleh segenap komponen bangsa. Belajar dari pengalaman masa lalu sebagai Bangsa dan dalam rangka menjalankan amanat Undang-Undang tentang Desa dengan sebaik-baiknya, patut kiranya kita untuk melihat dan mencontoh keberhasilan dari negara lain dalam membangun desa dan membangun bangsanya. Salah satu negara yang dapat dijadikan role model dalam pembangunan ekonomi dan pembangunan desanya adalah negara yang beberapa waktu lalu mengguncang dunia dengan K-popnya, Korea Selatan. Siapa yang tidak mengenal negara Korea Selatan dengan keajaiban ekonominya? negara tersebut dalam waktu relatif singkat menjadi negara yang sejajar perekonomiannya dengan negara-negara Benua Asia lainnya - Jepang, China, Hongkong, Taiwan, dan Singapura. Negara Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945 setelah Perang Dunia II. Di awal kemerdekaan perekonomian Korea Selatan sangat terpuruk karena tidak memiliki sistem dan struktur tersendiri dalam perekonomian. Korea Selatan termasuk dalam salah satu negara termiskin di dunia, sejajar dengan negara-negara miskin di Afrika dan Asia pada tahun 1950-an. Pada tahun 1963, Korea Selatan adalah negara miskin dengan pendapatan per kapita hanya USD100. Namun di tahun 2010 GDP per kapita Korea Selatan (Republic of Korea) sebesar USD22,151 serta tahun 2013 menjadi USD25,977. Sedangkan negara Indonesia di tahun 2010 GDP per kapita adalah USD2,947 dan ditahun 2013 sebesar USD3,475. Hal ini menunjukkan pendapatan rata-rata setiap warga Korsel per tahun adalah tujuh kali lipat dari pendapatan per tahun rata-rata orang Indonesia. (sumber :http://data.worldbank.org/indicator/NY.GDP.PCAP.CD). Perekonomian Korea Selatan melesat dengan cepat hingga saat ini menjadi negara maju yang sering diistilahkan sebagai keajaiban sungai Han. Korea Selatan adalah negara yang berada di kawasan Asia Timur yang letaknya bersebelahan dengan China dan Jepang dan berbatasan langsung dengan Korea Utara. Korea Selatan memiliki ibu kota negara bernama Seoul dengan luas negara mencakup bagian selatan Semenanjung Korea seluas 99.274 km2. Keadaan topografinya sebagian besar bergunung-gunung dan tidak rata. Pegunungan di wilayah timur umumnya menjadi hulu sungai-sungai besar, seperti sungai Han dan sungai Naktong. Sementara wilayah barat merupakan bagian rendah yang terdiri dari daratan pantai yang berlumpur. Di wilayah barat dan selatan yang terdapat banyak teluk terdapat banyak pelabuhan yang baik seperti Incheon,Yeosu,Gimhae, dan Busan. Korea Selatan adalah salah satu negara yang mengalami kehancuran ketika mereka mengalami perang saudara di tahun 1950-1953, sehingga bisa dikatakan pada waktu itu Korea Selatan merupakan negara agraris termiskin di dunia. Akibat dari perang saudara melumpuhkan perekonomian negara dimana desa-desa miskin, terlantar dan kekurangan bahan makanan. Perang hanya menyisakan desa-desa yang compang-camping, tanah telantar, serta 48 jutaan warga miskin dan kurang makan. Lahan pertanian di Korea Selatan sempit dan tidak akan cukup untuk memproduksi makanan untuk kebutuhan seluruh rakyat Korea Selatan. Pertumbuhan ekonomi mengalami perkembangan yang meningkat sejak di era kepemimpinan / pemerintahan Park Chung Hee (tahun 1961-1979) hingga di masa pemerintahan Kim Dae Jung pertumbuhan ekonomi tahunan telah mencapai 8,6% dan menjadi negara dagang terbesar ke sebelas di dunia. Hal ini menjadikan Korea Selatan menjadi salah satu negara yang disebut “Four Tigers” (empat macan) karena berhasil mencapai tingkat pertumbuhan tahunan (annual growth) sebesar 5,5% dan lebih cepat dibandingkan dengan wilayah lainnya di dunia. Hanya dalam dua dasawarsa sejak program pembangunan ekonomi nasional dicanangkan pada 1960-an, Korsel bergerak untuk berubah menjadi negara industri baru. Korea Selatan telah membuktikan sebagai salah satu negara yang maju di bidang elektronika (Samsung, LG) , otomotif (Hyunday, KIA), perkapalan (Hyunday Heavy Industry), semi konduktor, pepabrikan (Baja : POSCO). Pasar keuangan internasional secara positif mengakui keberhasilan ekonomi Korea, mengingat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan, tabungan nasional yang tinggi, inflasi yang terkendali, defisit eksternal yang minim, dan surplus anggaran pemerintah signifikan. Dibalik kesuksesan pembangunan ekonomi Korea Selatan tersebut menimbulkan pertanyaan bagaimana Korea Selatan dalam kurun waktu yang relatif singkat dapat membangun negerinya menjadi salah satu negara modern dan diperhitungkan oleh dunia ? Salah satu kata kunci dari semua itu adalah fokus pada pembangunan desa dan pelestarian budaya. Ingat pepatah “ keluarga sehat, negara kuat”. Demikian pula apabila desa kuat maka negara akan kuat, apabila nilai-nilai budaya dijaga dan dipelihara maka pembangunan desa akan semakin mengokohkan jati diri bangsa. Cara pandang demikian yang mereka tanamkan di awal pembangunan usai perang saudara hingga akhirnya menjadikan Korea Selatan negara maju dan modern, sejajar dengan negara-negara Barat. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa sistem pemerintahan dengan pola demokrasi ala barat yang mengutamakan penguasaan teknologi dan pasar sukses dijalankan tanpa meninggalkan nilai ketimuran yang sarat dengan kearifan budaya sebagai modal dasar pembangunan desa. Pola pembangunan demikian yang mereka namakan “Saemaul Undong”. Saemaul Undong (새마을운동) secara harfiah berasal dari kata 새 (se) yang berarti baru 마을 (maeul) berarti desa/komunitas dan 운동 (undong) yang berarti gerakan. Saemaul Undong merupakan suatu gerakan perubahan dan reformasi pedesaan untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Gerakan yang berangkat dari kesadaran desa untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk desa. Saemaul Undong merupakan gerakan pembangunan masyarakat desa yang membawa pencerahan spiritual dan kondisi kehidupan yang lebih baik (pendapatan, infrastruktur, lingkungan tempat tinggal dan komunitas). Gerakan ini didasarkan pada semangat menolong diri sendiri dan kerja sama dengan dukungan dari Pemerintah. Saemaul Undong adalah gerakan pembangunan masyarakat yang diprakarsai oleh almarhum Presiden Park Chung Hee yang memimpin Korea Selatan pada periode 1961-1979. Semangat Saemaul Undong lahir pada tahun 1970-an ketika Presiden Park Chung Hee menyadari bahwa tak mungkin ada pembangunan nasional negaranya tanpa perbaikan desa. Saemaul Undong ditetapkan sebagai kebijakan pemerintah dan dilaksanakan dengan prinsip kerja sama, disiplin, dan kerja keras. Berkat Saemaul Undong, taraf hidup masyarakat perdesaan membaik, desa-desa mengalami modernisasi, dan semangat gotong-royong masyarakat meningkat.             Menurut Yuli Angelia dalam http://bp2sdmk.dephut.go.id/emagazine/attachments/article/16/SAEMAUL%20UNDONG%20-%20yumi%20-%206%20Lembar.pdf, tujuan yang hendak dicapai dalam Saemaul Undong berjangka menengah dan jangka panjang. Tujuan jangka menengah adalah menggapai kehidupan yang lebih baik. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah membangun dan mewujudkan komunitas masyarakat yang mandiri dan modern sehingga menjadikan negara kuat.             Tujuan tersebut dicapai melalui : 1) peningkatan pendapatan rumah tangga petani; 2) pembangunan infrastruktur desa; 3) perbaikan lingkungan tempat tinggal; dan 4) pencerahan spiritual serta perbaikan sistem sosial. Kesemuanya dilandasi dengan semangat Menolong Diri Sendiri (self help) dan Kerja Sama. Simbol Saemul Undong adalah lingkaran kuning dengan gambar pohon berwarna hijau memiliki 3 daun. Makna 3 (tiga) daun tersebut merupakan spirit yang melandasi Saemaul Undong dalam prakteknya didalam kehidupan desa di Korea Selatan. Menurut Budi Budiman dalam http://desakodasari.wordpress.com/2014/02/15/mengenal-saemaul-undong-gerakan-pembangunan-pedesaan-di-korea-selatan/ ketiga hal dimaksud adalah sebagai berikut : 근면(geun myeun) yang berarti Ketekunan (diligently). Masyarakat Korea Selatan merupakan masyarakat yang tekun, disiplin dan pekerja keras. Ketekunan dan kegigihan mereka dibentuk oleh alam dimana wilayah Korea Selatan umumnya berbukit dengan tanah miskin unsur hara dan kondisi sumber daya alam yang terbatas hingga memaksa mereka bekerja keras dan jauh dari sifat pemalas. Spirit tersebut menjadi roh program Saemaul Undong, karena dengan jiwa ini mereka harus mampu mengatasi segala masalah yang mereka hadapi untuk dapat keluar dari kemiskinan. 자조 협동(hyom dong) yang berarti Kerja sama (cooperation). Semangat bekerja sama mendorong rakyat Korsel untuk mengedepankan rasa saling percaya, rasa senasib sepenanggungan, saling berbagi sesama anggota masyarakat, dan yang tidak kalah penting membangkitkan tradisi saling membantu di antara anggota masyarakat untuk memperbaiki kehidupan mereka dengan meningkatkan perilaku kompetisi dan partisipasi. Spirit ini menjadi dasar penduduk Korea Selatan bahu membahu dan bekerja sama untuk menuntaskan program Saemaul Undong. Mereka sadar keberhasilan yang nanti diperoleh adalah untuk kepentingan mereka menuju hidup yang lebih baik. d.Pelaksanaan Program Saemaul Undong e.Kunci Keberhasilan Pelaksanaan Program Saemaul Undong IV.Kesimpulan Program Saemaul Undong direncanakan dan dilaksanakan oleh penduduk desa sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia. Gerakan Saemaul ini tercetus di tahun 1970 berawal ketika Presiden Park Chung Hee blusukan ke bekas lokasi banjir di salah satu desa Korea Selatan pada tahun 1969. Presiden terkejut karena dengan bantuan sedikit warga berhasil memulihkan desanya. Bahkan, membangun jalan lebih lebar, membuat tembok dan atap dengan bahan lebih baik. Berdasarkan hal tersebut, timbul keyakinan bahwa pembangunan pedesaan di Korea Selatan akan dapat mempercepat pemulihan perekonomian negara dengan dilandasi semangat bekerja yang tidak mengenal lelah dan tanpa pamrih. Dalam perkembangannya bentuk program Saemaul Undong tersebut antara lain mencakup : perbaikan atap rumah (atap bangunan yang awalnya dari rami digantikan dengan atap bangunan yg lebih stabil dan kokoh), pelebaran jalan, pembangunan jembatan, pelebaran jalan pertanian, pembangunan balai pertemuan desa, pembangunan instalasi air bersih, perbaikan saluran air (drainase) dan peningkatan pendapatan penduduk desa dengan penanaman tanaman yang cepat memberikan keuntungan. Setelah gerakan Saemaul Undong bergulir pada tahun 1970, Korea Selatan mengalami pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Tingkat pendapatan masyarakat pada kawasan perdesaan dan perkotaan relatif merata dan seimbang. Masyarakat desa sangat menikmati keseharian mereka dengan basis pada sektor pertanian karena mereka mendapatkan pendapatan yang tidak jauh berbeda dengan sektor lainnya di perkotaan. Korea Selatan kini berdiri sejajar dengan Amerika, Jepang dan negara-negara maju lainnya di belahan benua Eropa. Program Saemaul Undong telah menjadi contoh keberhasilan program di Korea Selatan. Penduduk Desa dan Kepala Desa serta Kepala Saemaul memiliki inisiatif sendiri menyusun program pembangunan yang dibutuhkan oleh penduduk desa setempat. Kepala Saemaul adalah orang yang ditunjuk dan diberikan pendidikan dan latihan oleh pemerintah Korea Selatan untuk memastikan keberhasilan program Saemaul Undong sebagai program pembangunan desa. Program dilaksanakan dengan menggunakan dana bantuan dari pemerintah, apabila dana tersebut tidak mencukupi penduduk desa sukarela menyisihkan harta yang mereka miliki untuk keberlangungan program tersebut. Kerja sama juga mereka lakukan untuk membagi waktu bekerja setiap minggunya dengan menyesuaikan pada kemampuan dan ketersediaan waktu yang mereka miliki. Menurut Herman Suryatman dalam http://bappeda.sumedangkab.go.id/berita-148-membedah-pembangunan-desa-ala-korea-selatan-saemaul-undong-movement.html, Gerakan Saemaul Undong diimplementasikan pada tiga kegiatan praktis di lapangan. Pertama “Environment Improvement”, yaitu kegiatan perbaikan lingkungan yang meliputi sarana dan prasarana dasar di pedesaan, baik jalan, jembatan, irigasi, drainase maupun sarana air bersih dan sanitasi lainnya. Kegiatan ini dilaksanakan antara lain dengan memberikan bantuan stimulan berupa semen, besi beton serta bahan/perlengkapan lainnya. Kedua “Increasing Income”, yaitu kegiatan yang dilakukan melalui berbagai pelatihan ekonomi produktif, perluasan akses permodalan serta fasilitasi pemasaran hasil produksi pertanian yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan penduduk desa. Ketiga “Mental Reform”, yaitu kegiatan terstruktur yang dilaksanakan secara intensif untuk membangun mentalitas penduduk pedesaan (ruh/spirit Saemaul Undong) agar memiliki etos kerja keras, tekun, jujur dan disiplin tinggi. Kegiatan ini diawali dengan perbaikan dan komitmen moral para pemimpin di setiap jenjang pemerintahan, kemudian ditransformasikan ke seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), baik masyarakat maupun pelaku usaha. Orientasi utama dari ketiga kegiatan praktis tersebut tidak berdasarkan bagi-bagi kue (charity) tetapi tetap pada upaya pendekatan kesukarelawanan, padat karya dan bersifat produktif. Selanjutnya penerapan ketiga prinsip dasar pada tiga kegiatan praktis di lapangan tersebut didukung oleh partnership kelembagaan yang handal, yaitu kerjasama yang sinergis antara domain pemerintahan, pemimpin desa dan pemimpin saemaul dengan penduduk desa. Pemerintah bertugas untuk memfasilitasi dan memberikan bantuan strategis (Strategic Support), pemimpin desa bertugas untuk memandu secara langsung di lapangan dengan keteladanan kepemimpinan (Leadership), serta masyarakat secara bersama-sama mengembangkan kesukarelawanan untuk membangun desa (Volunteers) seperti harta, tenaga dan kemauan penduduk desa merelakan sebagian lahan pekarangan rumah digunakan untuk pelebaran jalan desa, dan lain-lain. Gerakan Saemaul Undong di Korea Selatan telah bergulir dan menggerakkan roda perekonomian yang meningkat signifikan di desa-desa. Masyarakat desa mulai mengembangkan program Saemaul Undong kebidang yang lebih luas seperti pabrik pengolahan, greenhouse untuk mengatasi musim dingin, mengadopsi alat pertanian bermesin, beternak, dan budi daya ikan dengan intensif, membangun perpustakaan, dan fasilitas lain yang memang bermanfaat dan mereka butuhkan. Pada tahun 1979 Gerakan Saemaul Undong ini sudah tersebar secara nasional dan 98 (sembilan puluh delapan) persen desa di Korea Selatan sudah menjadi desa mandiri. Korea Selatan telah berhasil membangun desanya untuk maju, mandiri dan sejahtera. Hal ini membuktikan bahwa sistem pemerintahan dengan pola demokrasi ala barat yang mengutamakan penguasaan teknologi dan pasar sukses dijalankan tanpa meninggalkan nilai ketimuran yang sarat dengan kearifan budaya sebagai modal dasar pembangunan desa. Pola pembangunan demikian yang mereka namakan “Saemaul Undong”. Beberapa kunci keberhasilan Gerakan ini adalah (1) Dukungan dan intervensi dari pemerintah, terkait penyediaan berbagai bentuk layanan dan bantuan yang dimaksudkan untuk memperkenalkan sistem dan program kepada masyarakat, (2) Mendorong kepedulian dan keikutsertaan masyarakat seluas-luasnya, dikarenakan untuk mencapai tujuan bersama tersebut diperlukan komitmen, kesungguhan, dan wujud nyata segenap elemen terkait dalam mensukseskan program Saemaul Undong, (3) Jiwa Kepemimpinan, sebagai faktor penting bagi kesuksesan gerakan Saemaul Undong yang ikut menjadi penentu keberhasilan program, dan (4)Reformasi Spiritual, dimana gerakan ini telah berhasil mengubah mindset dan sikap masyarakat dari malas menjadi rajin, dari ketergantungan menjadi kemandirian, dan dari sifat ego/mementingkan diri sendiri menjadi kesediaan bekerja sama untuk tujuan dan kepentingan bersama. Sebuah pertanyaan bisakah kita bergerak bersama-sama dengan menggunakan semangat dan spirit Saemaul Undong agar Indonesia yang dahulu dikenal gotong royongnya menjadi negara maju dengan dukungan penuh masyarakat dan pemerintah ? Adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa semoga tidak menjadi lahan baru untuk memperluas tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di desa-desa, namun justru diharapkan dapat menjadi momentum untuk menata dan membangun desa di Indonesia menjadi jauh lebih baik, mandiri, dan sejahtera sesuai yang dimaksudkan dalam Tujuan didirikannya Bangsa dan Negara Indonesia. *) Penulis adalah Widyaiswara Muda Pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Anggaran dan Perbendaharaan Daftar Referensi Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Korea 1988 : A Nation at the Crossroads (Editor G Cameron Hurst III, 1988) Erizal Jamal. 2009. "Membangun Momentum Baru Pembangunan Pedesaan Di Indonesia". Jurnal Litbang Pertanian http://news.okezone.com/read/2014/12/02/337/1073664/mendes-marwan-jajaki-kerja-sama-dengan-korsel http://bappeda.sumedangkab.go.id/berita-148-membedah-pembangunan-desa-ala-korea-selatan-saemaul-undong-movement.html http://desakodasari.wordpress.com/2014/02/15/mengenal-saemaul-undong-gerakan-pembangunan-pedesaan-di-korea-selatan/ http://www.jawapos.com/baca/artikel/3957/Saemaul-Bangkitkan-Desa-ala-K-Wave http://bp2sdmk.dephut.go.id/emagazine/attachments/article/16/SAEMAUL%20UNDONG%20-%20yumi%20-%206%20Lembar.pdf http://beritadaerah.co.id/2014/10/24/korsel-bangkit-dari-negara-agraria-menjadi-negara-industri-baru/ http://bangunbumipetani.blogspot.com/2011/07/belajar-dari-korea-gerakan-desa-baru.html http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/09/22/044706326/Korea.Negeri.yang.Berlari.Kencang.dari.Puing.Perang http://wartaekonomi.co.id/berita19922/saemaul-undong-korea-membangun-mulai-dari-desa/related_news.html http://www.antaranews.com/berita/39424/menhut-harapkan-saemaul-undong-korsel-jadi-acuan-pembangunan-hutan Baca Selengkapnya
  • PENGHITUNGAN ANGSURAN PPH PASAL 25 BAGI WAJIB PAJAK MENURUT PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 208/PMK.03/2009

    Latar Belakang Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008 yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 208/ PMK.03/ 2009 tentang Penghitungan Besarnya Angsuran Pajak Penghasilan DalamTahun Pajak Berjalan Yang Harus Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak Baru,Bank, Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Wajib Pajak Masuk Bursa, Dan Wajib Pajak Lainnya Yang Berdasarkan Ketentuan Diharuskan Membuat Laporan Keuangan Berkala Termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu. Namun dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut tidak memberikan contoh penghitungan angsuran Pajak Penghasilan. Baca Selengkapnya
  • PAJAK YANG FAIR : KONTAK SOSIAL NEGARA DAN RAKYAT

    ABSTRAK Keadilan adalah satu kata yang sangat dicari pendekatan praktis-nya ketika mendesain aturan pajak. Sejarah panjang telah ditempuh untuk mencari konsep yang terbaik untuk mengejawantahkan tentang keadilan pajak. Setelah konsep pajak begitu cair pada zaman kerajaan sebelum konsep demokrasi berkembang di negara-negara modern, banyak pemikir mengemukakan pendapatnya mengenai keadilan pajak, dari Adam Smith hingga Musgrave. Pada intinya pajak harus diberlakukan secara fair atau adil. Bagaimana mendesain peraturan pajak hingga memenuhi unsur keadilan? Muara tulisan ini adalah mencoba melihat letak keadilan pajak dalam sistem negara modern yang sebenarnya. Seadil-adilnya keadilan yang ingin dicapai pada sistem yang dibangun manusia, dipercaya masih merupakan keadilan relatif. Karena keadilan mutlak hanyalah milik Tuhan semata. Baca Selengkapnya
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Eselon I Kementerian Keuangan

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan
Inspektorat Jenderal
Sekretariat Jenderal
Direktorat Jenderal Bea Cukai
Direktorat Jenderal Pajak
Badan Kebijakan Fiskal
Direktorat Jenderal Anggaran
Direktorat Jenderal Perbendaharaan
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
Call Center BPPK
Easylib
Wise